Nebulisasi (Inhalasi Uap Obat)
Terapi pernapasan dengan menghirup uap obat untuk mengatasi gangguan pernapasan
Terapi pernapasan dengan menghirup uap obat untuk mengatasi gangguan pernapasan
- Relatif aman untuk semua usia, tapi perlu hati-hati pada:
- Bayi prematur atau sangat kecil (risiko bradikardi)
- Pasien dengan TBC paru aktif (risiko penularan melalui aerosol)
- Pneumothorax (paru bocor) yang belum tertangani
- Hemoptisis masif (batuk darah banyak)
- Alergi terhadap obat nebulisasi yang digunakan
- Gangguan jantung berat (terutama jika menggunakan bronkodilator)
- Hipertiroid (berhati-hati dengan bronkodilator)
- Salbutamol/bronkodilator: Jantung berdebar, tremor tangan, gelisah, sakit kepala (jarang dan ringan)
- Kortikosteroid: Suara serak, kandidiasis mulut (jamur). Pencegahan: kumur dan berkumur setelah nebulisasi
- NaCl/saline: Sangat aman, jarang efek samping
Cuci tangan petugas dan pasien
Siapkan alat nebulizer dan pastikan bersih
Masukkan obat sesuai resep ke dalam cup nebulizer (biasanya dicampur dengan NaCl 0.9% hingga volume 3-5 ml)
Pasang cup ke mesin nebulizer
Hubungkan dengan selang oksigen atau kompresor
Posisikan pasien duduk tegak atau semi fowler
Pasang masker nebulizer menutupi hidung dan mulut (untuk bayi/anak kecil) atau gunakan mouthpiece (untuk anak besar/dewasa yang kooperatif)
Nyalakan mesin nebulizer
Instruksikan pasien untuk bernapas normal melalui mulut (dalam-dalam, lambat, dan teratur)
Durasi nebulisasi: 5-15 menit atau hingga obat habis (ditandai dengan tidak ada lagi uap yang keluar)
Jika pasien batuk saat nebulisasi, biarkan saja (normal, merupakan respons pembersihan dahak)
Setelah selesai, matikan mesin
Bersihkan wajah pasien dari sisa obat
Kumur-kumur dengan air bersih (terutama jika menggunakan kortikosteroid)
Observasi 15-30 menit untuk melihat respons dan efek samping
Evaluasi: periksa pernapasan, saturasi oksigen, keluhan pasien
- Jantung berdebar (takikardi): Efek bronkodilator, biasanya ringan dan hilang sendiri. Jika berat, segera hubungi dokter
- Tremor tangan: Gemetar ringan, efek samping bronkodilator, akan hilang dalam 1-2 jam
- Gelisah/cemas: Efek stimulasi dari bronkodilator
- Mual: Jarang, bisa karena menelan obat saat nebulisasi. Solusi: bernapas melalui mulut dengan benar
- Sakit kepala: Ringan dan sementara
- Kandidiasis oral (jamur mulut): Jika pakai kortikosteroid dan tidak kumur. Tanda: bercak putih di lidah/pipi dalam, nyeri. Pencegahan: kumur setelah nebulisasi
- Bronkospasme paradoks: Sangat jarang, sesak makin parah setelah nebulisasi. Segera hentikan dan hubungi dokter
- Infeksi: Jika alat tidak bersih. Pencegahan: cuci dan sterilkan alat secara teratur
- Sesak napas makin berat setelah nebulisasi
- Bibir/kuku biru (sianosis)
- Napas sangat cepat atau sangat lambat
- Kesulitan bicara atau sangat lemas
- Kesadaran menurun
- Jantung berdebar sangat kencang dan tidak membaik
- Nyeri dada
- Tidak ada perbaikan setelah 2-3x nebulisasi dalam sehari
- Posisi duduk tegak (tidak berbaring) agar obat masuk optimal ke paru
- Bernapas dalam dan lambat melalui mulut
- Gunakan masker yang pas menutupi hidung dan mulut (tidak bocor)
- Lakukan saat pasien tenang (untuk anak, bisa sambil nonton video/main)
- Hindari nebulisasi saat pasien menangis (anak) karena tidak efektif
- Jaga kebersihan alat untuk mencegah infeksi
- Patuhi jadwal dan dosis yang diresepkan dokter