Induksi Persalinan
Prosedur Medis

Induksi Persalinan

Prosedur medis untuk merangsang kontraksi rahim dan memulai proses persalinan

Estimasi Biaya: Rp 8.000.000 Durasi: 12-48 jam (bervariasi)
Induksi persalinan adalah prosedur medis yang dilakukan untuk merangsang kontraksi rahim agar proses persalinan dimulai sebelum persalinan terjadi secara spontan. Induksi dilakukan dengan berbagai metode, baik mekanis maupun farmakologis, tergantung pada kondisi serviks (leher rahim) dan indikasi medis.Prosedur ini dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan dengan pemantauan ketat terhadap ibu dan janin. Keputusan induksi selalu berdasarkan pertimbangan medis bahwa melanjutkan kehamilan memiliki risiko lebih besar daripada dilahirkan.

Indikasi

  • Kehamilan lewat waktu (post-term): >41-42 minggu
  • Ketuban pecah dini (KPD): Ketuban pecah tapi belum ada kontraksi dalam 24 jam (risiko infeksi)
  • Korioamnionitis: Infeksi pada selaput ketuban dan cairan ketuban
  • Hipertensi dalam kehamilan: Preeklampsia, eklampsia, hipertensi gestasional yang tidak terkontrol
  • Diabetes gestasional: Tidak terkontrol atau bayi terlalu besar
  • Oligohidramnion: Air ketuban terlalu sedikit
  • Pertumbuhan janin terhambat (IUGR): Janin tidak tumbuh optimal di dalam rahim
  • Solusio plasenta: Plasenta terlepas sebelum waktunya (ringan-sedang)
  • Kematian janin dalam kandungan (IUFD)
  • Penyakit ibu: Penyakit ginjal, jantung, atau kondisi yang memburuk
  • Riwayat stillbirth sebelumnya
  • Kehamilan kembar dengan komplikasi
  • Ibu tinggal jauh dari rumah sakit
  • Riwayat persalinan cepat sebelumnya
  • Usia kehamilan >39 minggu dengan serviks favorable

Kontraindikasi

  • Disproporsi sefalopelvik (bayi terlalu besar, panggul ibu terlalu kecil)
  • Plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir)
  • Vasa previa (pembuluh darah janin melintang di jalan lahir)
  • Posisi janin melintang (transverse lie)
  • Riwayat operasi caesar klasik (sayatan vertikal di rahim) atau operasi rahim mayor lainnya
  • Herpes genital aktif
  • Kanker serviks invasif
  • Prolaps tali pusat
  • Gawat janin akut
  • Riwayat caesar 1-2x dengan sayatan rendah melintang (risiko ruptur uteri 0.5-1%)
  • Grande multipara (hamil >5x)
  • Presentasi bokong atau posisi janin abnormal lainnya
  • Polihidramnion (air ketuban berlebihan)
  • Kehamilan kembar
  • Makrosomia (bayi sangat besar >4.5 kg)

Persiapan

  • Evaluasi awal: USG untuk memastikan posisi janin, jumlah air ketuban, kondisi plasenta. NST (Non-Stress Test) untuk memantau detak jantung janin dan kontraksi. Pemeriksaan dalam (VT) untuk menilai kematangan serviks (Bishop score).
  • Informed consent: Dokter menjelaskan prosedur, risiko, dan alternatif. Ibu dan keluarga menandatangani persetujuan.
  • Persiapan fisik: Puasa 6-8 jam sebelum induksi (jika ada kemungkinan operasi darurat). Cukur rambut pubis (jika diperlukan). Pasang infus untuk pemberian cairan dan obat.
  • Pemeriksaan lab: Darah lengkap, golongan darah, faktor Rhesus
  • Persiapan mental: Diskusi rencana persalinan dengan dokter. Pahami bahwa induksi bisa memakan waktu 12-24 jam atau lebih. Siapkan pendamping persalinan.
  • Persiapan barang: Tas persalinan, perlengkapan bayi, dokumen (KTP, BPJS, buku KIA)

Tahapan Prosedur

1

Penilaian kematangan serviks (Bishop score):

2

Skor <6: serviks belum matang, perlu pematangan serviks dulu

3

Skor ≥6: serviks sudah matang, bisa langsung induksi kontraksi

4

Metode Pematangan Serviks (jika Bishop score <6):

5

Metode mekanis: Kateter balon Foley (memasukkan balon kecil ke serviks dan mengembangkannya)

6

Metode farmakologis: Prostaglandin gel/tablet (misoprostol, dinoprostone) dimasukkan ke vagina dekat serviks

7

Tunggu 6-12 jam untuk pematangan serviks

8

Evaluasi ulang Bishop score

9

Induksi Kontraksi:

10

Pecah ketuban buatan (amniotomi) jika ketuban masih utuh dan serviks sudah terbuka

11

Pemberian oksitosin intravena (infus) dengan dosis yang ditingkatkan bertahap setiap 30 menit

12

Monitoring ketat:

13

CTG kontinyu: memantau detak jantung janin dan kontraksi

14

Pemeriksaan dalam berkala (setiap 2-4 jam) untuk melihat pembukaan serviks

15

Monitor tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu)

16

Manajemen nyeri:

17

Teknik relaksasi dan pernapasan

18

Epidural analgesia jika diperlukan

19

Obat pereda nyeri sesuai kebutuhan

20

Persalinan:

21

Jika induksi berhasil: persalinan normal melalui vagina

22

Jika induksi gagal atau ada komplikasi: operasi caesar

23

Fase aktif dimulai saat pembukaan 6 cm, kemudian fase transisi (8-10 cm), lalu kala II (mengejan)

Pasca Prosedur

  • Pemantauan awal (2-4 jam pertama): Monitor perdarahan, kontraksi rahim, tanda vital, produksi urine. Inisiasi menyusui dini (IMD) segera setelah bayi lahir.
  • Perawatan luka (jika ada episiotomi/robekan): Jaga kebersihan area perineum. Kompres es 24 jam pertama untuk mengurangi bengkak. Duduk di atas bantal donat. Obat pereda nyeri sesuai resep.
  • Mobilisasi: Istirahat 6-8 jam pertama. Mulai duduk dan berjalan perlahan setelah 12-24 jam. Mobilisasi dini mencegah trombosis.
  • Nutrisi: Boleh makan-minum normal jika tidak ada komplikasi. Tingkatkan asupan protein, zat besi, dan kalsium. Minum air putih minimal 8-10 gelas/hari untuk produksi ASI.
  • Eliminasi: Buang air kecil dalam 6 jam pertama (hindari retensi urine). Buang air besar dalam 2-3 hari (konsumsi serat tinggi).
  • Menyusui: Susui bayi on demand (setiap 2-3 jam). Kolostrum sangat penting untuk bayi. Konsultasi laktasi jika ada kesulitan.
  • Istirahat: Tidur saat bayi tidur. Hindari aktivitas berat 6 minggu pertama. Jangan angkat beban berat.
  • Kebersihan: Mandi 2x sehari. Ganti pembalut setiap 4-6 jam atau saat basah. Cuci tangan sebelum menyentuh bayi atau area luka.
  • Kontrol: Kunjungan pertama 3-7 hari pasca persalinan. Kunjungan kedua 6 minggu (pemeriksaan lengkap dan konseling KB).

Komplikasi & Risiko

  • Induksi gagal: 15-20% kasus terutama jika serviks belum matang, berujung pada operasi caesar
  • Kontraksi terlalu kuat (uterine hyperstimulation): Kontraksi terlalu sering dan kuat bisa menyebabkan gawat janin dan ruptur uteri (sangat jarang)
  • Ruptur uteri: Sangat jarang (0.5-1%) terutama pada ibu dengan riwayat operasi rahim sebelumnya
  • Perdarahan postpartum: Risiko sedikit lebih tinggi karena rahim terlalu lelah berkontraksi (atonia uteri)
  • Infeksi: Terutama jika ketuban pecah lama atau banyak pemeriksaan dalam
  • Luka jalan lahir: Episiotomi atau robekan perineum mungkin lebih besar
  • Nyeri lebih intens: Kontraksi induksi cenderung lebih kuat dan lebih nyeri dibanding kontraksi spontan
  • Emboli air ketuban: Sangat jarang tapi serius
  • Gawat janin: Detak jantung abnormal karena kontraksi terlalu kuat
  • Persalinan prematur iatrogenik: Jika usia kehamilan salah perhitungan
  • Hiperbilirubinemia (kuning): Risiko sedikit lebih tinggi
  • Trauma lahir: Patah tulang selangka, cedera pleksus brakialis (jarang)
  • Nilai APGAR rendah: Jarang, jika ada gawat janin
  • Misoprostol: Hyperstimulasi, ruptur uteri (terutama pada bekas caesar)
  • Oksitosin: Hiperstimulasi, intoksikasi air (hiponatremia) jika infus terlalu cepat
  • Amniotomi: Prolaps tali pusat, infeksi jika persalinan lama
  • Perdarahan hebat (ganti pembalut >1 jam sekali)
  • Nyeri perut hebat yang tidak hilang dengan obat
  • Demam >38°C
  • Lochea (darah nifas) berbau busuk
  • Luka jahitan merah, bengkak, bernanah
  • Nyeri dada, sesak napas
  • Sakit kepala hebat, pandangan kabur
  • Bengkak kaki yang makin parah
  • Payudara merah, nyeri, demam (mastitis)
  • Depresi postpartum yang berat
  • Induksi pada usia kehamilan yang tepat (>39 minggu jika elektif)
  • Serviks yang sudah matang (Bishop score ≥6)
  • Kesabaran - induksi bisa memakan waktu 12-48 jam
  • Dukungan pendamping persalinan
  • Komunikasi baik dengan tim medis
  • Siap mental untuk kemungkinan caesar jika induksi gagal atau ada komplikasi